Pack my bag lagi, kali ini ke Singapore! Mungkin kalau ditanya, "Sudah pernah ke Singapur?" Lumayan banyak orang Indonesia akan menjawab, "Sering!" Maklum, kita terkenal doyan belanja dan Singapur adalah tempat terdekat untuk menyalurkan nafsu belanja itu :P Anyway, saya juga sudah 2 kali ke Singapura. Setiap kali, pasti langsung menuju Orchard Road, Little India, Bugis, dll yang semuanya sangat kental aroma belanjanya. What can I say, I'm Indonesian :P
Jadi begitu hotel Grand Mercure Roxy Singapore (bintang 4), mengajak saya jalan-jalan meng-eksplore daerah East Coast dan sekitarnya. I was like, Huh? East Coast? Sebelah mananya Orchard? :D Setelah 4 hari jalan-jalan disana saya baru sadar, selama ini ternyata saya telah melewatkan sisi lain Singapura yang sarat keindahan alam dan pelestarian budaya peranakan.
Yang membuat perjalanan saya ke Singapura kali ini semakin menarik adalah dengan bergabungnya Trinity menjadi Travel Buddy saya. Seperti yang kita semua sudah tahu, Trinity adalah penulis buku best seller The Naked Traveler, yang telah backpacking keliling dunia (sendirian)! You can imagine how excited I was to meet and spend Singapore trip with her :D She's slightly different from what I imagine about the Trinity character on the book. Okay, MUCH different :P

Trinity is very independent but also know how to share, very outspoken like typical Bataknese but also can speak fluent Javanese and have a soft part inside of her :P, she's on time and didn't have much hassle about appereance, she digest food real fast :D, she walks fast (unlike most Indonesian) and with her, I can relax a bit. I always the one who lead and told people what to do, this time, because Trinity has stonger character than me (which is rare to find), I can follow her path and just enjoy the whole journey. Perfecto :D
Sampai di Changi Airport, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang (waktunya lebih cepat 1 jam dari Jakarta). Perjalanan menggunakan ValuAir memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Cepet banget, nggak kerasa udah nyampe. Di depan pintu keluar penjemput kami sudah tersenyum dengan ramah. Ya, Grand Mercure Roxy memang memberikan fasilitas Free Shuttle Service dari Airport ke hotel dan sebaliknya. Shuttle service ini ada setiap 30 menit, jadi nyaman sekali untuk ukuran orang yang selalu bingung nyari transport ke hotel seperti saya :P

Sepanjang jalan menuju hotel saya menyaksikan kembali bersih dan teraturnya Singapore dengan pohon-pohon rindang yang membuatnya seperti kota di dalam taman. Jalanan juga terlihat lengang. Mungkin karena hanya sekitar 5 juta orang yang tinggal di negara ini. Bandingkan dengan KOTA Jakarta yang memiliki hampir 10 juta penduduk. Hanya 15 menit kami sudah tiba di hotel Grand Mercure Roxy, Singapore di East Coast Rd. Kami langsung diajak untuk makan siang bersama Executives dari Grand Mercure Roxy. Kevin & David got British accent, Betty & Keane have Singapore English accent. And I got hearing problem from the flu. Perfect. I frowned everytime they speak. Thank God Trinity make a lot of conversations, so I didn't have to talk that much haha.

Setelah nambah pasta berkali-kali di Italian Buffet-nya restoran Feast&East (Di lantai 3 hotel), kita diajak ngelihat kamar kita dan tour keliling ngelihat Suite Room hotel. Kita stay di Deluxe Room yang sangat nyaman. Dulu, saya sempat berpikir, saat traveling kamar hotel itu nggak penting, yang penting jalan-jalannya. Tapi setelah kejadian AC panas dan tempat tidur keras di crappy room berkipas angin di Jogja dengan harga yang sama tingginya dengan 'kamar normal', saya jadi berubah pikiran. Setelah capek jalan-jalan kita mau istirahat di tempat yang nyaman, dan bisa recharge agar lebih segar esok harinya. Mungkin kalo bandingin sama Jogja kejauhan. Pas ke Singapore dulu juga sempat stay di Apartment dan Hotel dekat Orchard dengan harga yang mahal dan kenyamanan yang jauh banget dari yang saya dapat di Grand Mercure Roxy.




Tapi kan East Coast Road jauh dari Orchard?!
Kalau udah biasa sama traffic Jakarta, jalan dari Grand Mercure Roxy ke Orchard Rd yang cuma 30 menit pasti nggak bisa dibilang jauh. Saya udah coba langsung naik public bus no. 76 ke Orchard dari depan hotel. Biayanya cuma S$1.80. Turunnya persis di halte belakang Ion Orchard Mall. Ini Mall besar baru di Orchard. Arsitekturnya keren loh. Isinya juga sudah pasti lengkap. Dari Ion lanjut jalan menyusuri Orchard yang udah penuh ornamen Natal (Christmas come early :D). Berhenti di Orchard Central, Mall baru juga nih. Seru banget exploringnya karena gedung ini instead of lebar, dia slim (memanjang ke atas). Jadi patung dan pohon natalnya juga slim-slim :D Pulangnya kita naik taksi dari sampingnya Orchard Central.

Dari hotel ke Singapore Flyer cuma 10 menit. Ini pertama kalinya saya naik Singapore Flyer: kincir raksasa yang menawarkan pemandangan Singapura dari ketinggian hingga 165 m. Saya dan Trinity sampe lari-lari karena kita punya sedikit waktu sebelum ikutan city tour. Ternyata Singapore Flyer ini nggak pernah berhenti. Tapi jalannya sangat pelan, hingga waktu 1x muternya bisa sampai 30 menit. (Nggak kayak yang di pasar malam dadakan di lapangan yang muternya bisa 10 kali haha). Pemandangan dari atas Singapore Flyer benar-benar indah banget. Semua orang sibuk berfoto, termasuk kami berdua :P



Di gedung yang sama, kita bisa daftar dan ikutan BumBoat dan City Tour dengan bis atap terbuka dari FunVee. Dulu dari Merlion saya pernah lihat orang naik Duck Boat yang bisa terjun dari darat ke air seperti bebek ini. Alhamdulillah saya bisa ikutan naik bebek juga :D Sayangnya saat city tour naik bis atap terbuka, hujan tiba-tiba turun. Terpaksa harus di dalam bis dan nggak bisa motret karena kaca bis penuh titik-titik air. Tapi dari city tour ini saya jadi ngerti tempat-tempat menarik yang mungkin akan saya kunjungi lagi nanti. Saya melihat big picture-nya dulu sebelum deciding my favorite spot to visit.


FYI, Hotel Grand Mercure Roxy menyediakan promo paket DISCOVER SINGAPORE dengan paket menginap yang sudah termasuk city tour (dan benefit lainnya) di dalamnya. Wah enak deh jadi nggak ribet cari tour lagi!
Dari hotel ke daerah Katong yang sarat budaya peranakan memakan waktu 5 menit saja. Maklum area ini berada persis di belakang hotel. Tinggal koprol! Budaya peranakan adalah budaya China yang berpadu dengan budaya lokal (Melayu/India) yang kemudian disebut Baba Malay. Laki-lakinya dipanggil Baba dan perempuan dipanggil Nyonya. Di daerah Katong bisa kita lihat arsitektur peranakan yang kental pada bentuk rumah, jendela, pintu dan detail lainnya. Di Katong juga ada toko Kim Choo yang menjual souvenir peranakan. Most of them sangat lekat dengan budaya Indonesia. Seperti rantang, congklak, batik, kebaya encim, sepatu manik-manik, dan... Sundari Soekotjo's Bengawan Solo :D



Kami juga sempat diajak mampir ke rumah Alvin Yapp, pria single, available and looking (hehe you requested this, Alvin!), yang mempunyai passion yang besar pada budaya Peranakan. Rumahnya (yang masih di daerah Katong), dinamakan The Intan yang filosofinya dalem banget. Dan tulisan Jln Intan sendiri itu vintage yang dulu benar-benar pernah dipake untuk nunjukin jalan. Nggak hanya itu, rumahnya sendiri udah kayak gallery untuk budaya peranakan. Dari aksesoris hingga lantainya disesuaikan dengan jaman peranakan. Kami banyak bertanya tentang budaya Peranakan sama Alvin, dan dia menjawab dengan bersemangat dan mata yang berkilauan. I love that kind of passion :D Rumah Alvin bisa digunakan untuk party atau acara seru lainnya. Just check out The Intan website for more info!


Di Katong ini juga saya lihat ada kura-kura di dalam akuarium di depan sebuah toko. Saya langsung berteriak dengan senang, "Turtles!" Carol, yang menemani saya langsung menanggapi, "Yeah, they make turtles soup too." I think I turned pale blue for 5 seconds. I'm shocked. I was about to say, "They're so cute, I have 3 of them at home!" ~.~

Untuk ke East Coast beach, hanya butuh 5 menit bersepeda dari hotel. Udah 10 tahun kali nggak sepedaan, tapi ternyata bener, nggak lupa tuh caranya :P Saya dan Trinity sepedaan melewati lampu merah dengan damai. Nggak ada yang 'seruduk menyeruduk' di sini. Motor pun tak kelihatan. Kita lanjut perjalanan melewati terowongan menuju pantai. Ada tanda di situ yang bilang kalau kita harus turun dan menuntun sepeda kita. Denda S$ 1000 kalo melanggar. Dengan patuh, kita pun turun dari sepeda. (By the way, saking banyaknya peraturan di Singapur, kami jadi suka parno sendiri dan saling memperingatkan jangan sampe kena denda dengan konyol :D).


Nggak lama, kami sampai di pinggir pantai. Seperti pantai di Bengkulu (Pantai Panjang), pantai East Coast pinggirannya juga dipenuhi pohon pinus dari East Coast Park. Bedanya, di Bengkulu hanya ada jalan untuk mobil. Sedangkan di East Coast, ada 2 jalur, yang satu untuk pejalan kaki, dan satunya lagi untuk jogging, sepeda dan roller blade. Kami pun menyusuri pantai dengan riang gembira. Udaranya segar karena banyak pohon dan pantainya bersih sekali padahal ini adalah pantai tempat 'hang out'-nya berbagai kapal tanker. Bandingin sama Tanjung Priuk :P


Setelah 15 menit sepedaan, stamina langsung merosot karena kehausan. "Beli teh botol yuk!" Dan kami pun melanjutkan perjalanan mencari minum. Ternyata nggak ada yang jualan di sepanjang jalan (emangnya Anyer :D). Mungkin ada tapi di ujung sebelah mana kita nggak tau, dan kita nggak kuat lagi. Akhirnya kita berhenti di bawah sebuah pohon. Saya tiduran di bangku taman sambil memandangi langit biru dihiasi pohon pinus, dan Trinity... merokok.


Oh ya, saya lupa cerita kalau Trinity adalah perokok berat. Meskipun kebanyakan tempat Singapura adalah no smoking area, tapi dia cukup kreatif mencari tempat, situasi dan kondisi untuk merokok. You guys should ask her for tips and trick :P

Setelah puas foto-foto di menghirup udara segar di East Coast, kita bersepeda lagi ke Katong untuk makan Laksa terkenal di Singapura: Katong Laksa! Sekitar 10 menit sepedaan, kita sudah duduk manis menunggu Laksa kita dianter. Setelah mencoba, ternyata Laksa-nya enak banget. Beda lah dengan Laksa yang biasa kita makan. Special pake kerang lagi!


Continue to Singapore East Coast Trip [Part 2]
Orignal From: Singapore East Coast Trip

Tanggal 6 November 2009 lalu Kutukutubuku.com diundang oleh Mojopia, perusahaan anak perusahaan Telkom, untuk ngobrolin bisnis online alias e-commerce di event Indocomtech 2009. Saya mewakili Kutukutubuku.com untuk ngobrolin tentang pengalaman dan suka duka berbisnis online di booth-nya Plasa.com.
Loh, tadi Mojopia, kok sekarang Plasa.com?? Jadi Plasa.com itu adalah produk dari Mojopia. Rupanya mereka sedang dalam proses re-branding Plasa.com. Tadinya Plasa.com adalah portal segala ada, sekarang mau dirubah menjadi 'Mall online' tempat berbagai macam toko online bisa jualan dengan mudah. Dengan fasilitas seperti pembayaran kartu kredit, promosi besar-besaran ala big corporate dan meminjam nama besar Telkom, diharapkan customer akan lebih merasa nyaman dan aman berbelanja di sini dan para entrepreneur bisnisnya semakin lancar. Cocok banget untuk UKM yang baru start bisnis online dan memiliki produk ready stock.

Cara mendaftar di Plasa.com gimana? Duh gimana yah *lupa* hihi. Kemarin sih langsung daftar ke booth Plasa.com di Indocomtech. Rencananya beta version launch sekitar Desember 2009. Gini aja, yang minat langsung comment di post ini aja ya biar bisa di-follow up sama Mojopia :D Syaratnya gampang: punya KTP + NPWP.

Talkshow berlangsung dengan semangat dan ada juga beberapa teman dunia maya yang menyempatkan hadir untuk nanya-nanya dan dapet hadiah juga tentunya hehe :D

Hari sebelumnya, suami tercinta mas Unwinged juga ngomong di booth Plasa.com untuk GantiBaju.com. Nggak janjian loh :D
To Mojopia, thank you atas undangannya dan semoga sukses untuk Plasa.com ^^
Orignal From: Kutukutubuku.com on Indocomtech 2009
Mari kita bicara soal penulisan. Sekarang ini banyak yang nanya gimana caranya saya bisa nulis tentang macam-macam hal di blog dan bahkan pernah kerja jadi freelance writer untuk blog asing yang membahas tentang keuangan trus dapet $ dari situ padahal sama sekali nggak pernah kerja di bidang keuangan. Kok bisa? Pertanyaan yang sama ditanyakan juga beberapa tahun yang lalu saat saya menulis Je M'appelle Lintang yang setting-nya di Paris. Kok bisa, belum pernah ke Paris tapi nulisnya seakan-akan udah tinggal lama disana? Jawaban atas semua pertanyaan itu adalah: RISET. Sekarang dengan adanya internet (dan Google), melakukan riset itu nggak sesulit jaman dulu. Ada teknik-tekniknya agar semakin mudah melakukan pencarian dan ternyata ada banyak cara lain melakukan riset di internet, nggak cuma melalui search engine aja. Trus teknik risetnya gimana? Gimana biar jadi from zero to hero? Gimana caranya mulai dari mempersiapkan bahan riset, mengumpulkan hingga menuliskannya? Untuk menjawabnya, saya membuat sebuah Ebook 80 halaman berformat PDF yang berjudul Inspirasi.Net ^^ Apakah Ebook ini gratis? Iya gratis, tapi hanya 2 bab pertama. Sisanya beli ya hehehe. Harganya Rp 50.000 Kalau biasanya jualan buku paperback, sekarang jualan digital book, new experience for me :D Karena masih mengukur kemampuan saya sendiri dalam memproduksi Ebook, maka untuk 10 orang pertama yang beli Ebook ini, saya kasih special price Rp 10.000 dengan catatan habis membaca harus me-review Ebook ini ^^V

Namanya cewek... baru ketemu sebentar aja bisa ngobrol panjaaang lebaar tentang macem-macem hal terutama tentang kehidupannya sendiri yang berhubungan dengan orang lain. Mulai dari masalah anak, pembantu, pacar, suami, hingga gosip artis terbaru pasti langsung keluar di 5 menit pertama. Pantesan, gue perhatiin, temen gue kok pinter banget bikin gue ngomong sebanyak ini. Ternyata dia mengulik-ngulik masalah perkawinan: salah satu topik yang disenangi wanita (termasuk gue). Akhirnya langsung ngobrol deh panjang dan lama :D
Gue sendiri termasuk orang  yang cukup pendiam (jangan protes :P) dan agak lebih laki-laki dibandingkan wanita pada umumnya. But still, gue juga butuh teman curhat! Curhat sama suami memang bisa juga, tapi nggak tau kenapa kalo curhat sama sesama cewek rasanya lebih asyik aja.
Temen wanita bisa punya sudut pandang yang sama dan mengerti banget gimana harus bersikap, sehingga proses curhat biasanya berjalan lanjar dan damai. Sering ngalamin kan kalo curhat ke cowok itu ujung-ujungnya berantem? Soalnya mereka suka coba ngasih solusi yang kadang-kadang nggak kita butuhkan hihi. Come on guys, we just wanted you to listen :P
Saat ini saya memiliki 3000 ++ friends di Facebook dan beberapa social networking website lainnya. Tapi sesungguhnya yang truly  my bestfriends itu jumlahnya sangat sedikit sekali. Ternyata untuk curhat dan having a very close relationship with a woman bestfriend, we still need a chemistry.
Jadi wondering, dengan kondisi masyarakat urban yang cenderung cuek dan berirama cepat seperti sekarang, bisa nggak ya teman-teman yang lain dengan mudah mendapatkan curhat buddy? Someone that we could contact anytime (even in the middle of the night). Someone who will listen to us when we're having a heartbreak, happy to get a raise, sad because of stupid family things, give us tips to cure the pimples and watch our food while we're on diet, comfort and lift us up when we need the most. Kayaknya semua itu udah semakin susah ditemukan deh apalagi di kota besar!
I once asked my friend, "Kok di Indonesia nggak ada ya layanan hotline curhat gratis?"
Mungkin dengan curhat, teman kita batal pake narkoba.
Mungkin dengan curhat, teman kita nggak jadi bunuh diri.
Mungkin dengan curhat, masa depan sahabat kita bisa diselamatkan.
Mungkin dengan curhat, sahabat kita bisa menjadi orang yang lebih baik.
Yuk teman-teman, kita bersatu padu dan membuka diri untuk menjadi tempat curhat yang tulus bagi sister yang lagi butuh pertolongan.
Kamu  juga mau kan jadi teman curhat saya? ;)
This post is dedicated to my bestfriend yang telah memutuskan meninggalkan gemerlapnya kota Jakarta. I missed you!
Orignal From: Wanted: Teman Curhat
Hari sabtu pagi yang cerah ini dapet kesempatan ikut nonton film persembahan terbaru dari Mizan Production dan Smaradhana Production:Â Emak Ingin Naik Haji (EINH) dari Imazahra. Thanks very much dear for your kind invitation ;)Â Film ini diangkat dari cerpen karya Asma Nadia berjudul sama.
Dari cerpen diangkat menjadi film... hm... banyak lemaknya nggak yah? Pikir saya. Tapi as usual, dengan pembawaan tenang dan nothing to lose, I watched the movie.
Film ini bercerita tentang seorang Ibu yang biasa dipanggil Emak, yang mempunyai cita-cita mulia untuk naik haji, meskipun hidupnya kurang mampu. Sang anak lelaki (Zein) yang ditinggal istri karena terbelit masalah keuangan, memahami sekali niat dan maksud ibunya, namun nyaris tak bisa apa-apa untuk mewujudkan mimpi ibunya karena ia juga kekurangan. Kemudian Zein didorong rasa putus asa dan sayang ke ibunya, mencoba berbagai cara untuk memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci, salah satunya dengan berbuat hal yang tak terpuji.
Intrik yang kemudian timbul adalah saat membandingkan niat Emak yang tulus untuk ke tanah suci, dengan niat tetangganya yang sudah berkali-kali ke Mekkah (kali ini hanya untuk Umroh dengan artis) dan niat salah satu pemimpin partai politik yang ingin menang dalam pemilu dengan menggunakan gelar Haji. Tiga cerita ini kemudian bermuara pada satu titik yang sama untuk memberikan kesimpulan akhir pada cerita. Katanya sih, Mbak Asma terinspirasi dengan plot film Babel-nya Brad Pitt.
Setelah nonton 10 menit, I thought, siapa nih penulis skenarionya?! Skenarionya ditulis dengan simple tapi sarat makna, menyentuh dan fat-free oleh dynamic duo Adenin Adlan & Aditya Gumay. Tambah salut setelah tahu Adenin Adlan bikinnya cuma 3 hari. Mak... I've been there, and know exactly that nulis skenario itu susyahnya mincha ampyyunn *Cinta-Laura-mode-on*
Skenario ini kemudian dieksekusi dengan keren oleh sang sutradara (yang menjanjikan), Aditya Gumay, serta akting hebat  pemain-pemain watak seperti Aty Kanser (Emak), Reza Rahadian (Zein, sang anak), Didi Petet, Henidar Amore, Cut Memey, Ayu Pratiwi, dll, membuat film ini mengalir mantap tanpa dipaksakan. What a brilliant movie supported by the greatest team!
Beberapa kali gue denger Ima terisak dari kursi sebelah. Film ini memang sangat menguras air mata. Ima nanya dengan sewot, "Kok kamu nggak nangis sih, Li?" Hehehe. Maap, masalah air mata memang sulit. I don't even cry on my wedding, so.... :D (Kayaknya kelebihan hormon testosteron). Tapi bukan berarti nggak nangis sama sekali. Bagian cerita yang menyebutkan tanah suci Mekkah, Ka'bah, foto-foto Mekkah & Ka'bah paling menyentuh buat saya. I missed them like an old friend. Kapan yah kesana? Emak benar-benar membuat saya kembali me-review batas kemampuan saya (financially) dan mulai berpikir untuk membuka tabungan Haji. Apakah seharusnya saya sudah mampu? Salah satu quote dari film ini terasa begitu mengena, "Ke tanah suci menunggu panggilan? Panggilan Allah? Mati dong...!"
Satu 'ups' nya movie ini sebenarnya bukan di dalam movie-nya itu sendiri tapi di sarana promosi/graphic/brosur-nya yang menampilkan foto yang menurut saya sedikit spoiler sehingga penonton bisa menebak arah ceritanya.
Anyway, setelah film selesai dengan cantiknya, saya, Ima dan teman-teman langsung merubungi Mbak Asma, Emak (Aty Kanser), Adenin Adlan dan Aditya Gumay untuk foto bersama sekaligus mengucapkan selamat atas kerja luar biasa mereka. So happy buat Mbak Asma yang karyanya bisa diwujudkan sebagus tulisannya. Benar-benar impian semua penulis untuk memfilmkan karyanya seperti ini. Emak (Aty Kanser) & Zein (Reza Rahadian), congratulations, the chemistry is unbelieveable! Benar-benar seperti ibu dan anak yang saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. And last but not least, Adenin Adlan dan Aditya Gumay, you're the star, you're the best! Semoga bisa terus berkarya menghasilkan masterpiece untuk menginspirasi kita semua ;)
So, I really hope you could also watch film Emak Ingin Naik Haji mulai 12 November 2009 bersama seluruh keluarga, karena each and every family member will get different inspiration & message from this movie. Believe me!
Kalian yang menonton serta membeli buku Emak Ingin Naik Haji juga telah ikut serta dalam membantu para soleh dan solehah yang ingin ke Mekkah namun kondisi ekonominya masih belum memungkinkan. Awesome!
Jadi, kamu mau daftar Haji dulu apa nonton filmnya dulu? :D
Simak behind the scene pembuatan film Emak Ingin Naik Haji di Blog Mbak Asma
Orignal From: Film Emak Ingin Naik Haji

A decent looking teenager sit beside me while I was waiting for a  taxi at Plaza Senayan. He blurted, "Sister, do you have a job for me?"
I winked at him for a second, still playing with the iPhone. This is Jakarta. Where you could meet all kind of people that will do anything to get into your pocket. I'm just as skeptical as 99% of Jakarta people. So I asked him almost with zero interest, "What kind of job do you need?"
"Anything," He said almost instantly.
"Where are you from?" I asked him, while updating my status on Twitter.
"I came from Bogor... I go to Jakarta, to get a job...." He said. His eyes look tired and sad.
"What did you do for a living in Bogor?"
"I worked on printing company... Engkoh back to Java and close his business...," his eyes wandering.
I nodded. Thinking hard. Analyzing.
"Astaghfirullah, it's dark already...," he smiles bitterly. "It's my second day in Jakarta, sister. Yesterday I stayed in a mosque. I must get Rp 175.000 for my parents in Bogor."
"What for?"
He mumbles stuff, bills related, that I can't understand. I decided to stay quiet.
"I went to Palmerah market to get a job. Helping people carry their stuff. I got a client and he paid Rp 3.000. But somebody came and grabbed me by my shirt collar. He wanted me to go away." He told me his story with very expressive way.
"Oh no, you can't just go to Jakarta and jumped in the traditional market. Premans are everywhere!" I said to him with concern.
"Yes... premans are truly there, sister. I thought they only in movies." He said, almost chuckle. Laughing his own pain.
I sit still, drowning in my own thought. Thinking. Try to decide. Is he for real? Should I help him?
"Sister... people in the taxi line... it must be easy for them to get Rp 175.000 right?" He said, almost wondering.
"Of course, they're rich people."Â We watched as Alphards, Ferraris, Mini Cooper, Volvo, BMW, etc come and go picking their owners.
"How did you get here from Palmerah?" I asked him after minutes of silence.
"I walked," he smiles and touching his torn shoes spontaneously.
Silent sigh in my part. I have decided to help him. But how much? All that he said he needs? Or part of it? Or...
"Sister, I must go now...," he said, smiling. He didn't know where to go for sure.
"Wait! Are you gonna go home?" Â Stupid question.
"Of course sister, after I get that Rp 175.000. I still have Rp 7.000 in my pocket. I can go back by train once I collected the money...," then he excused himself once again.
"Wait! Come here!"
I put my iPhone and grab my purse. I decided to help him, all that he needs. I don't want to regret my entire life for not helping him.
"Take care of yourself. And go home as soon as possible! It's very dangerous outside."
He's  not a street kid. He's risking his life for Rp 175.000 because his family need it so badly.
He gasps and whisper, "Alhamdulillah... thank you very much sister...."
I nodded quickly. Refused to see his eyes. Then he walked away.
I let out a heavy sigh. If he's telling the truth, then he just one out of thousands people trying to find fortune in Jakarta. Some made it, some lost in the way.
As the taxi drove us away, I asked to Jakarta: how many dreams can you made come true tonight?
Orignal From: Jakarta: City of Hope

The plane has landed at the Adi Sucipto airport before we can even snooze a little. Me and hubby usually go to Jogja (or Daerah Istimewa Yogyakarta) either by train or by car from Semarang for a family occassion. But this time, we're going to enjoy our time like a honeymoon couple! :D It's lucky for us to get Rp 50.000 ($5) AirAsia one-way ticket for 2 person to Jogja (it's Rp 25.000 each!). It's basically Rp 0 but we paid for luggage and Go-Insure. Even our taxi fare from house to Soekarno-Hatta airport is more expensive! :D
We walked hand in hand like a true love bird, seeking for a hotel, outside the airport. Get 1 room for Rp 300.000 ($30) at the Amanda Hotel, Sosrowijayan area. It's a tourist area around Malioboro street (the most famous street in Jogja). It's kinda 'low-budget', but hey, we're backpacking-honeymoon-tourists remember :P

Forget rented cars or taxis, we use Trans Jogja. It's Rp 3000 each ($3) and we're arriving safe and sound in Malioboro Street. Soon after we hit Malioboro, those becak man (abang becak) already calling our names, offering service to take us around the neigbourhood. One of them got really agressive but look like a good guy, so we're going with his Becak.


I don't know if we getting more fat because the Becak just won't fit us two, but we managed to squeeze ourself in :P First stop was to have Gudeg for breakfast at Wijilan street. Gudeg is Jogja's popular food. Tastes sweet, suitable for Javanese taste.
Then the Becak Man, Mr. Yono, took us to what he said the original DAGADU store. Dagadu is one of Jogja famous brand for t-shirt. Damn, I really eat the bait without thinking. Bought 4 over-priced tees there, that turned out non-original. He took us to several batik places and Bakpia that also overpriced. OMG, I know this things happened in tourist area, but in Jogja? Never occurred to my mind before, that these nicest people would do such scams.

So, just be careful when deciding to buy things, but other than that, Jogja has much to offer. Just take the cultural experience to the max. Ask them to take you around the city, historical building, Keraton, etc. Of course you could also go to temples like Prambanan and Borobudur and take photos there, then watch Ramayana Ballet at Prambanan in the evening to have unforgettable moment of your life.


Me? Just going around Malioboro, and we went to Taman Sari as well. Taman Sari is the place where the King used to watch his girlfriends swimming and eventually will 'have fun' with one of them. The King's children sometime spend and enjoy their time in Taman Sari as well. It's a truly nice place that nowadays are used as the setting for couple to take pre-wedding photos.


Shopping for batik was my next schedule. Beringharjo market is the place to search for various kind of Batik. Because it was very hot in Jogja and my husband was starting to sweat so badly, I feel bad to let him suffer. That's why after 2 batiks, we took off and strolling down the street to Shopping.



Shopping is the place to shop used text-books, regular books, magazine, etc in Jogja. I was surprised to see it so clean and big, unlike the regular traditional market type like it was before. We spent 2 hours in Shopping, try to find our childhood memories in these old Manga like Mari Chan, Swan, City Hunter, Pop Corn, etc :D
Beside Shopping, we visit the new "Taman Pintar" playground where kids can play and learn from musical instrument, to Physics theory. Wow! Real nice!


Just like an old couple, we lost our energy and fell asleep for 3 hours. Waking up, it's already 9 PM. I still can't believe we're in Jogja and we're sleeping instead of going somewhere. I wanted to go to my old homestay when I was in Jogja. But yeah, can't happened. So, we went out to eat fried duck at Malioboro. The street musician sing the unofficial Jogja Song by KLA Project, "Pulang ke kotamu... ada setangkup haru dalam rindu...." and a street artist capturing our moment with his illustration (Hey! My lips is not that big hehe). So... damn... romantic... and emotional as well.
What a day... we walked back to our hotel holding hands like teenager, smiling and greeting every other tourists, just because we're one of them. Crossing the Malioboro street, I made one final stop at one of the Batik stands. This time, I won't let my money spilled. "Give me this batik for Rp 15.000, it's final offer!" And when she handed me the batik shirt, I smirked. Now, my Jogja trip has come full circle.
Orignal From: Jogja Trip

Hari minggu tgl 25 Oktober 2009, setelah kopdar dengan para blogger di Pesta Blogger 2009, saya diundang untuk sharing tentang blog dan creative writing di Pusat Perfilman Haji Umar Ismail. Saya ngebahas tentang How to be a Cool Blogger. Materinya sebenernya pengen dishare di sini tapi kok susah banget uploadnya ya (hampir 20 MB). Event ini diselenggarakan oleh para Multipliers yang punya nama Pena Lectura (salah satunya Gita) dan didukung oleh Lingkar Pena Publishing House serta Halaman Moeka Publishing House.
Bicara blog yang bagus, pasti nggak lepas dari content atau isi blog-nya itu sendiri. Mau dibawa kemana blog kita? Ya itu sangat tergantung dengan passion yang ada di diri kita. Misalnya saya sukanya jalan-jalan, nggak mungkin saya nulis di blog saya tentang geologi. :D Passion sangat kita butuhkan untuk menambah semangat dan ke-konsisten-an kita dalam ngeblog. Banyak loh yang blog-nya terlantar karena pemiliknya lagi 'nggak mood' atau nggak semangat :D
Tapi saya juga pernah kok ngeblog tentang financial, gosip artis mancanegara dan tentang pernak pernik perkawinan. Tapi itu murni untuk kebutuhan pekerjaan. Contentnya mudah didapatkan melalui riset di Google. Tinggal gimana kita mengemasnya kembali :)
Nah, karena passion saya udah keliatan yaitu di bidang buku, travelling, fotografi, makan, dll, jadinya blog saya pun mulai pecah menjadi blog lain sesuai dengan kategori yang saya ingin tulis. Tapi Salsabeela.com tetap menjadi rumah bagi kesemua blog saya. Di sinilah 'pusat kehidupan online' saya. Jadi meskipun pemiliknya sibuk Twitteran atau Facebook-an, rumah ini masih selalu siap menerima tamu hihi :P
Ok content sesuai dengan passion kita udah punya, sekarang tinggal strategi agar pengunjung yang membaca blog kita lebih optimal, nggak cuma teman kita yang itu-itu aja, namun juga pengunjung-pengunjung yang 'nyasar' dari Google. Ini yang dinamakan Search Engine Optimization (SEO).
Untuk itu kita bisa menggunakan Google Insights for Search. Minggu lalu saat pencarian, di daerah Jakarta sedang ngetrend pencarian tentang keyword berikut: UFO, Jakarta, Calon Menteri, Kabinet SBY
Pada saat latihan, saya meminta teman-teman peserta workshop untuk menuliskan blog post yang menceritakan sebuah gambar yang saya sediakan serta mengandung keywords di atas. Hasilnya beragam. Semuanya bagus-bagus, and I'm not being nice here. Bener-bener bagus :) Yang menurut saya paling bagus adalah milik Mbak Dian Mardi karena mengambil sudut pandang yang nggak biasa. Check it out:

Harapan pada Celah Pagar Calon Menteri
Saya tidak pernah menghitung, berapa langkah yang sudah saya kumpulkan untuk menelusuri panjangnya jalan di Jakarta ini. Saya memang tidak pernah berniat untuk itu. Lelah. Saya sudah terlalu melongok setiap celah pagar rumah-rumah berpagar tinggi, berharap pemiliknya sedang ingin mengurangi tumpukan barang bekasnya di gudang mereka, yang mungkin lebih luas dari kamar kontrakan saya.
Sering saya membayangkan, kira-kira apa pekerjaan orang-orang yang rumahnya berpagar tinggi yang sering saya intip-intip ini. Dari barang-barang bekasnya, dari luas garasinya, bahkan dari tanaman yang tumbuh di halaman rumahnya. Mungkin saja dia calon menteri di kabinet SBY.
Gerobak dan kaki ini satu-satunya kendaraan saya. Jangan bayangkan kecepatannya seperti UFO. Bahan bakarnya saja hanya singkong goreng dan air. Tapi dari langkah saya dan gerobak ini saya menguntai harap, semoga pemilik lapak mau membeli barang-barang bekas yang saya beli hari ini.

Workshop selanjutnya dilanjutkan oleh Imazahra my Multiply pal, penulis buku Long Distance Love, yang sangat ceria dan bersemangat membahas Creative Writing in Non-Fiction. Many thanks buat panitia yang hangat dan baik banget, serta thanks buat buku-buku dari Lingkar Pena Publishing House, pasti saya review nanti. Let's meet again sometime ^^

Semua foto workshop ini diambil oleh my mom-in-law alias ibu mertua. Begitu denger kata ibu mertua, biasanya langsung pada keringet dingin and rasanya langsung masuk angin. Makanya pas nyokap datang sambil bawa kamera dan dengan setia menemani, teman-teman di workshop pada heran. Kok akur sih? Kok anak-anaknya dibiarin bisnis nggak jelas bu? Hehe
Komentar suami pas diceritain kejadian itu: Kayaknya pada kebanyakan nonton sinetron deh. :D
Well, mungkin karena sekarang jaman udah maju and komunikasi lebih lancar. Papa, Mama, Papa mertua, dan Mama mertua semua punya Facebook, Blog dan Twitter. Sehingga bisa kontrol anaknya dengan cara yang modern alias 2.0. Kalo lihat dari Facebook anaknya beraktivitas dengan baik dan bahagia, orang tua mana yang nggak senang dan lega hatinya. Dengan begitu, nggak perlu cerewet lagi atau banyak kritik yang bikin anak jadi bete, trus juga jadi nggak perlu berprasangka karena fakta sudah terdisplay dengan baik via update status :D Cukup sekali-sekali komentar di Wall Facebook anaknya aja untuk mensupport anaknya. Bukan begitu, Moms and Dads? :D
More update on our marriage life bisa dilihat di blog yang ini.
Artikel terkait event:
http://lovusa.multiply.com/journal/item/206
http://kesabaran.multiply.com/journal/item/279
http://natayacr.multiply.com/journal/item/37
http://dianmardi.multiply.com/journal/item/268
Orignal From: Antara Blog Workshop dan Ibu Mertua
Sejak kelas 1 SMA gue sudah mulai belajar nyetir. Yang ngajarin bokap di lapangan bola gitu. Dan terus di situ aja selama berbulan-bulan, sampai akhirnya pakde gue yang berani nyemplungin gue ke jalan raya. Seneng banget saat akhirnya bisa nyetir. Bisa bebas bawa mobil bareng temen-temen cewek. Bisa keliatan lebih gaul :D
Tapi itu dulu. Sejak gue 'masuk' ke Jakarta tahun 2000 silam, gue sudah nggak berani lagi bawa mobil. Pernah gue bawa selama hampir sebulan di jalanan Jakarta dan terpaksa menyerah! Medannya ngeri banget! Selain angkutan umum yang 'berani mati', pengendara sepeda motor maupun mobil di Jakarta udah pada nggak liat-liat spion lagi kalau mau belok atau nyalip. Langsung hajar bleh! Berharap orang lain di jalanan punya indra ke-enam atau nyawa sembilan. ~.~
Sejak gue married, dan memperhatikan cara suami gue bawa mobil, gue jadi tau apa aja yang musti diperhatikan agar aman di jalanan. It's Driving Skills For Life!
- Pake sabuk pengaman. Kedengerannya sepele, tapi penting banget. Sabuk pengaman mungkin akan membuat baju kita sedikit kusut, tapi jika terjadi benturan dari depan, maka posisi kita akan lebih aman. Katanya 76% kematian dalam kecelakaan adalah karena tubuh terlempar keluar dari mobil. Hiyy *Naudzubillah* Di Jakarta sih tingkat pemakaian sabuk pengamannya udah bagus (karena Polisi rajin razia? hehe). Mudah-mudahan daerah lain menyusul!
- Jangan SMS Sambil Nyetir. Sekarang siapa yang nggak pernah kirim nelpon/SMS/email sambil nyetir? Hari gini kita emang super sibuk. Yang lebih mengkhawatirkan smartphone sekarang bentuknya semakin aneh-aneh dan sulit untuk bisa dipake dengan satu tangan. Miris rasanya liat suami gue ngetik email di iPhone-nya sambil tetap melaju kencang. Apalagi dia pernah jalan 160 km/jam SAMBIL MOTRET via iPhone dan NGUPLOAD foto yang barusan dia ambil ke FACEBOOK. Dasar gila >.<; Gue benar-benar berharap Allah melindungi suami gue dari semua kegilaan-kegilaannya. Amiin.

And like they said: It takes 8,460 bolts to assemble an automobile, and one nut to scatter it all over the road.
Have a safe journey!
Orignal From: Tips Aman Berkendara di Jalan Raya
Sebelum saya 'masuk' di Jakarta, saya sempat bertukar cerita dengan salah satu teman. Waktu itu saya masih tinggal di Kupang. Dia bilang di Jakarta, bis tidak akan berhenti untuk kamu, dan untuk turun dari bis pun, sudah ada aturannya: kaki kiri duluan. Biar nggak kepleset! Wah... bagi saya itu aneh sekali. Di Kupang, memang tidak ada bis, hanya ada angkot. Namun penumpang di-servis abis-abisan. Mulai dari lampu disko, musik top 40, hingga interior dan eksterior design angkot dibuat semenarik mungkin untuk kenyamanan penumpang.
Ketika saya ke Jakarta untuk kuliah & kerja, saya mulai merasakan angkutan publik di Jakarta. Saya langsung ingin mencoba bajaj yang unik. Lumayan juga badan bergoyang-goyang sepanjang waktu, dan kalau di lampu merah, pengamennya dapat dengan mudah mengakses penumpang karena bajaj nggak ada jendelanya. Alhasil, uang receh pun harus selalu siap sedia. Alhamdulillah selama ini skill mengemudi tukang bajaj yang gue naiki selalu baik. Ada juga sih bajaj yang ngetril banget pas belokan sampe-sampe bajajnya keguling dengan sukses di jalanan. Emang lukanya nggak bakal serius, tapi lecet-lecet karena kecelakaan bajaj itu benar-benar nggak keren untuk diceritakan :P
Dengan angkot kecil biasa, basically customer service oriented mereka masih bagus. Kalau kita stop pasti berhenti. Cuma kadang-kadang kalau nggak terlalu ngebut, terlalu pelan, karena nyari penumpang. Tapi pengalaman kemarin lumayan menyenangkan sih. Gue duduk di depan, samping pak sopir, dan pada saat mau belok ke arah rumah gue, ada Polisi yang menutup jalan dan menyuruh kita jalan di luar trayek. Langsung aja sopirnya marah-marah (gue simpulkan dari logatnya orang Batak :D). Dan tentu saja gue ikutan marah. Sebel karena ada possibility telat sampai rumah. Trus gue nunjukin jalan tikus ke abang sopir itu yang nembusnya kembali ke lajur trayek. Abangnya jadi respek sama gue, dikira ketua geng situ kali ya. Saking enjoy-nya gue jadi kernet, hampir-hampir gue ikut ngelurusin duit seribuan yang ada di dashboard hahaha.
Pengalaman gue dengan Kopaja/Mini Arta or whatever you call that medium bus, nggak begitu bagus. Selain karena mereka tidak pernah benar-benar berhenti, beberapa oknum sering sekali menurunkan penumpang di tengah jalan karena mereka malas menyelesaikan trayek. Herannya, kalau diomelin malah ngomel balik... malah galakan die... repot kan?! Selain itu di Mini Arta juga banyak copetnya. Gue pernah dikasih duduk sama bapak-bapak di Mini Arta, and I thought "How nice....!" dan 3 detik kemudian dia bersama 5 temennya mepetin seorang mbak-mbak yang mau turun. Dia ternyata anggota komplotan copet! Ckckck itu jam 8 pagi loh... orang rame sekali, mereka seperti nggak takut! Kapok deh naik Kopaja/Mini Arta. Kecuali naiknya sama suami gue... itung-itung pacaran murah meriah!
Bis Patas adalah sarana transportasi yang cukup gue senangi. Waktu tinggal di Depok, ke kantor bisa memakan waktu 1 - 2 jam karena kemacetan yang terjadi di Pasar Minggu (belum ada underpass). Akhirnya tiap naik bis, langsung pasang radio, and tidur. Nikmat bener. Bayarnya juga bisa nawar ama kernet karena jalan cuma setengah trayek hehehe. Kesulitan terbesarnya adalah pada saat nggak dapet tempat duduk. Bayangkan semua orang berbondong-bondong berangkat kerja di pagi hari. Berdiri ampe 2 jam pernah gue alami. Atau dapet tempat duduk tapi di tengah. Akhirnya pas mau berhenti repot karena kernet/sopir nggak denger teriakan gue, sedangkan gue sukses terjepit di antara orang-orang. Tips-nya adalah mulai berdiri dari tempat duduk 15 menit sebelum tiba. Itu juga harus keluar dengan susah payah! Satu pengalaman buruk gue dengan Bis Patas adalah pas gue ketemu eksebisionis. Lagi asik-asik baca majalah, tiba-tiba ada yang menyembul dari balik celana seorang bapak-bapak yang berdiri di depan gue. SIALAN! Nggak perawan lagi deh mata gue hahaha. Sayangnya gue terlampau Jawa untuk berdiri dan memaki-maki dia di depan umum. Let it be. Masih untung dia nggak nyolek gue. Akhirnya gue lanjutkan membaca hingga sampai di tujuan :p
Hal yang paling gue suka dari kereta adalah kecepatannya. Di traffic Jakarta yang tak terduga, sangat menyenangkan sekali bisa sampai ke satu tempat dalam waktu setengah jam saja. Harganya pun relatif lebih murah dari Bis Patas. Namun sayangnya, banyak orang berpikiran sama dengan gue. Dan kita semua memenuhi that poor trains sampe meleber ke atap kereta segala. Saking penuhnya kereta, gue pernah berdiri jinjit (karena 2 kaki nggak cukup lagi berpijak) dan melepaskan pegangan (look ma, no hands!) tanpa terjatuh sama sekali. Ajaib :D "Lu enak, tinggi! Nah gue?? Sesak napas tau!" Sahut salah satu teman. Gue ketawa ngakak. Memang, kereta di sore hari, telah menciptakan aroma-aroma memabukkan dari sepasang ketek manusia. Bagi saya, lumayan bisa cari oksigen di atas kepala para penumpang. Untuk teman saya yang tingginya persis berhenti di bawah ketek, ini benar-benar mimpi buruk :D~
Membicarakan traffic Jakarta berarti harus membicarakan ojek. So far, ojek sangat besar jasanya untuk nganterin gue kesana kemari dengan leluasa (terutama meeting pagi yang harus on time). Itu karena badannya bisa nyempil di antara kemacetan. Gue punya database tukang ojek sendiri yang telah gue seleksi terlebih dahulu. Syaratnya harus masih muda, rapi, sopan dan baik. Jadi kalo perlu urgent, gue selalu punya tenaga ojek yang siap sedia :P Pada saat naik ojek, badan gue punya nature way sendiri untuk menyeimbangkan diri dan gue duduk dengan percaya diri. Saat akan menyalip, I know what to do. Saat tempat yang akan dilewati terlalu mepet, I know what to do. So, I think I'm getting along really well with Ojek :D
Taksi. Tanyakan, "Udah lama Pak di Jakarta?" dan kamu akan mendapatkan cerita riwayat hidup sopir taksi yang serunya bisa kayak skrip sinetron. Tak terasa, kamu sudah sampai di tempat tujuan :D Untuk keamanan tetap pake Blue Bird, untuk menghemat bisa pake Express taxi. Dan karna gue memang sering naik taksi, maka gue juga jadi seneng ngereview taksi seperti TransCab (dengan TV kabel), Silver Bird (All New Mercy) dan Tiara Express (yang pake Alphard). Taksi sekarang harganya nggak reasonable, tapi untuk kenyamanan, masih menjadi transportasi umum pilihan utama di Jakarta.
Last but not least, Trans Jakarta. My love and hate relationship with Busway dimulai saat gue kost di daerah Gajah Mada. Saat itu masih rute Kota - Blok M saja. Awalnya masih asyik. Bebas hambatan dan bisa guling-gulingan di dalam bis. Setelah rute-rute baru di buka, penumpang memadati Busway. Dan karena pengelola tidak siap menerima lonjakan penumpang, jadilah gue dan puluhan penumpang lain tergenjet minimal setengah jam di halte Busway, hanya untuk masuk dan kembali tergencet di dalam Busway. Yang mengerikan, di halte tidak ada AC atau angin yang memadai. Jadi buat yang hamil sangat tidak recommended untuk berada di sini. Sejak Busway jadi penuh banget, gue mulai males naiknya. Dan sampe sekarang belum pernah naik busway lagi.
Satu yang belum ada di Jakarta dan gue sangat ingin mencoba: MRT. Kapan ya? Semoga bukan sekedar mimpi :p
Orignal From: Saya dan Angkutan Publik di Jakarta
Mo Kasih Info... Buat yang suka nonton Nanny 911/Nanny Stella from Nanny 911 akan hadir di Indonesia pada tanggal 5... read more
on Nanny 911 dan Rahasia Mengasuh Anak